Suasana kapel stasi St.Lucia, Kalirejo, Samigaluh, Kulon Progo 20 Mei 2008 lalu sangat ramai. Anak dan remaja memukul-mukul tetabuhan yang sudah mereka bawa dari rumah. Hari itu adalah pelaksanaan rekoleksi kemuridan anak dan remaja di wilayah Kalirejo.“Ayo adik-adik alate didonke sik, ben iso nyanyi Bapa Abraham…”, mas Atek yang sudah berdiri di depan akhirnya memimpin gerak dan nyanyian Bapa Abraham sebagai pembuka awal.
Keseluruhan peserta adalah 61 orang yang terdiri dari anak dan remaja mewakili 7 lingkungan di stasi St,.Lucia yaitu lingkungan St. Yusuf, St.Thomas, St.Antonius, St.Fransiskus Xaverius, St.Ignatius, St.Ellisabeth, dan lingkungan Sanjaya. Peserta dibagi menjadi 5 kelompok yang didampingi pendamping setiap kelompok. Pendamping yang turut serta adalah mbak Rini dari Kalasan, Tono dan Rosa dari Medari, Atek, Eko, dan Lucy dari Klepu, Yayik dan Gunarto dari Sedayu, Patrick dari Gamping, dan Mas Giga yang setia mengantar rombongan pendamping.
Proses awal adalah membuat doa pembukaan oleh masing-masing kelompok. Dengan olahan sharing apa yang kegiatan apa saja yang sering diikuti di lingkungan, apa yang menyenangkan dan apa yang tidak. Jawaban anak-anak tersebut beragam, yang menyenangkan ada yang doa rosario, doa novena, memule, mengikuti lomba-lomba dalam perayaan natal atau paskah. Menjadi menyenangkan karena ada makan-makannya, bisa bertemu teman, dapat hadiah, dan bisa mendapat tanda tangan (untuk calon komuni pertama). Namun kegiatan-kegiatan tersebut juga bisa menjadi menjengkelkan tatkala acara sampai larut malam, belajar menjadi tertunda, acaranya monoton, acaranya molor alias ngaret, harusnya belajar jadi tidak bisa belajar karena sampai rumah sudah mengantuk.
Tema kegiatan ini ialah “Ikut Yesus??....Terlibat di Lingkungan Yuuk…” yang mempunyai tujuan anak dan remaja menemukan pengalamannya mengikuti Yesus, dan menemukan rencana aksi terlibat dalam pengembangan lingkungan.
Berkaitan dengan gerakan missioner Keuskupan Agung Semarang kegiatan hasil sharing tersebut dirangkum dan diolah menjadi ada yang berhubungan dengan Allah, diri sendiri, dan dengan sesama. Lalu hasil tersebut diteguhkan dengan bacaan garam dan terang dunia yg diperagakan oleh kakak-kakak pendamping. Para pendamping juga tampak bersemangat menyanyikan lagu garam dan terang dunia yang terdapat dalam buku olah lagu dan dramatisasi Terlibat Biar Hebat yang disajikan oleh Tim Edukasi Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner.
“Kamu garam dunia, kamu jangan tawar. Kau harus berguna bagi siapa saja.” “Kamu terang dunia, kau harus bersinar. Allah tampak mulia jika kau berjasa.”
Adik-adik lalu semakin diteguhkan kalau menjadi garam artinya berguna dan kalau terang itu berjasa. Dan diwujudkan keterlibatkan mereka di lingkungan. Lalu bagaimana keterlibatan adik-adik di lingkungan diwujudkan dalam membuat doa rosario yang langsung dipraktekan sebagai penutup acara rekoleksi.
Istirahat diisi dengan makan snack bareng-bareng. Bentuk snack dalam rekoleksi ini adalah kado silang yang dibawa oleh masing-masing peserta. Peserta juga membawa makan siang sendiri-sendiri namun doa makannya bersama-sama yang dipimpin oleh salah satu anak peserta rekoleksi. Acara ini dimulai sepuluh menit lebih cepat dari yang direncanakan pukul 10.00 dan diakhiri tepat pukul 14.00 WIB.
